“Di balik kata semoga, seringkali bersembunyi cinta yang bahkan terlalu halus dalam isyaratnya.”

Rumah

Setiap dari kita pasti punya rumah. Bangunan di suatu tempat yang kadang menjadi muara rindu kita sekaligus menyimpan cerita tentang riwayat kita. Dinding-dinding rumah merekam suara-suara penghuninya, percakapan-percakapan dengan keluarga, dan nasihat-nasihat orangtua. Akan selalu ada perasaan rindu untuk rumah, sebab manusia mencintai kenyamanan dan kehangatan yang murni semurni yang ada di sebuah rumah.

Tetapi, kadang kita menyimpan iri ketika melihat rumah-rumah yang lebih besar, lebih bagus, dan lebih mewah. Kita selalu beranggapan di dalamnya selalu ada kehidupan yang bahagia dan gemah ripah loh jimawi. Kita selalu merasa rumah kita terlalu sederhana. Kita merasa tak ada apa-apanya dengan kesederhanaan yang kita miliki.

Tetapi, seringkali, rumah-rumah besar hanya menyimpan cerita kesepian dan butuh teman bicara. Dinding-dindingnya tak mendengar kehangatan sebagaimana yang dirindukan pemiliknya. Berbeda dengan sebuah rumah sederhana tak terlalu luas. Begitu pintu dibuka, kehangatan terasa dalam suasananya. Cat-cat dinding yang berwarna turut menyuarakan kehangatan. Tidak terlalu luas, tetapi ada kebahagiaan dan kebersamaan yang tidak ternilai harganya.

Rumah adalah tempatmu berlelah, bukan hanya sekadar tempat singgah. Di balik pintu itu, ada orang-orang yang mencintai kita tengah menunggu kedatangan kita. Mereka menyambut dengan bahagia kala kita datang setelah seharian berpenat. Dan mereka akan rela menyediakan sepasang telinga untuk mendengar cerita-cerita kita, bukan cuma sekadar meminjamkan sepasang telinga.

Rumah adalah keluarga. Bukan bangunan. Rumah adalah mereka yang selalu sabar menghadapimu, setia menantimu, dapat memahamimu, dan selalu mencintaimu apa adanya.

“Jika kau menyimpan rasa pada seseorang, ketahuilah bahwa cinta itu bersudut tiga dengan Tuhan di puncaknya. Bicaralah pada Tuhan dalam doa supaya Tuhan menjaganya. Sebab Tuhan akan memberi kejutan bagi hambaNya yang bersabar dan menjauhi laranganNya.”

Jingga dan Aku

Jika aku adalah sunyi, maka Jingga adalah sepi. Aku dan Jingga adalah dua anak angin yang sendiri dan seringkali merindu ada perasaan hangat sudi mampir ke rumah-rumah kami. Rumah-rumah besar ini rapat, hangat warnanya, tetapi seringkali merindu para penghuninya bersama. Kadangkala, aku dan Jingga menyatu dengan suasana. Menjelma keheningan. Bahkan, jarum detik jam dinding tua di rumah-rumah kami lebih gaduh daripada kami. Aku dan Jingga rindu pada hal yang sama. Seringkali, kulihat bagaimana sepi membuat Jingga seringkali dingin, seolah acuh dalam interaksi, dan bagaimana ia menjunjung diri sendiri. Tetapi, semakin aku melihat ke dalam diri Jingga, aku seolah bercermin dan menemukan pantulan sempurna diriku sendiri dalam dirinya. Tetapi, aku adalah perempuan dan Jingga adalah laki-laki. Dan, aku percaya bahwa dua pasang sunyi dapat saling melengkapi sehingga tak merasa sendiri lagi.

“Ada satu lagi pembelajaran dari hari ini. Satu detik melakukan hal yang salah dapat membawamu pada suatu penyesalan. Berpikirlah lain kali sebelum kau memutuskan akan melakukan sesuatu.”

Barangkali cinta adalah beberapa baris percakapan yang kau simpan rapat-rapat, tidak pernah kau lupa. Dan pada malam hari dimana kau tengah berlelah, kau memutar kembali sebaris percakapan iu hanya untuk melepas rindu.

Barangkali cinta adalah seorang pemuda yang kau kagumi imannya. Diam-diam, Tuhan mengetahui sebuah kekaguman lalu memberi suatu kejutan entah kapan.

Barangkali cinta bagi adalah masa lalu. Ada bagian mungil dari dirimu yang tertinggal di hari-hari kemarin dan terjebak tak menemukan pintu menuju hari lain. Masih ada debar ketika ia menatapmu dan kau selalu terdiam disitu, sibuk menerjemahkan arti tatapan sang masa lalu.

Barangkali cinta adalah penantian. Bertahun-tahun menunggu dalam jarak yang memberimu ragu. Dua dunia yang tadinya sejalan seirama kini melangkah sendiri-sendiri dalam semesta yang tak sama. Tetapi, kau masih berada disitu tanpa ragu dengan doa-doamu yang memeluk muara sang rindu.

Barangkali cinta adalah kamu, suatu kesatuan dari percakapan, iman, masa lalu, sekaligus penantian.

Jendela dan Pintu

Barangkali cinta adalah sebuah jendela pada dinding duniamu. Ia hadir disitu mengajakmu memandangi semesta. Di pagi hari, ia membiarkan kelopak matamu yang masih digelayuti kantuk digelitiki udara pagi. Di malam hari, ia menemanimu memandangi titik-titik berkedip terang di angkasa raya. Cinta sebagai jendela tak ubahnya kawan. Ia kawan yang mengusir sunyi seperti yang selalu kau butuhkan.

Atau, barangkali cinta adalah sebuah pintu yang justru membawamu pada semesta lain. Ia mungkin tak setiap saat ada sebagai seorang teman bicara, tetapi ia selalu mengajakmu melangkah. Ia mungkin tak menjadi tempatmu bermanja sebab ia justru mengajarimu untuk dewasa, tetapi ia selalu ada ketika kau butuh tempat untuk berlelah. Seperti sebuah pintu, ia tidak hanya menunjukkanmu hal-hal baik, tetapi ia pun mengajakmu menjadi seseorang yang lebih baik.

Metamorfosis

Setiap manusia mengalami metamorfosis mereka sendiri-sendiri. Anggaplah setiap remaja di ambang dewasa adalah kepompong-kepompong melekat di kayu-kayu pepohonan. Tadinya mereka hanyalah ulat-ulat, atau dalam bahasa manusia adalah anak-anak. Bahagia, bukan, menjadi ulat? Bermain, bahagia, dan penuh dengan keceriaan sebab kau merasa kau akan selamanya muda. Tetapi, bahkan ulat sekalipun harus merubah dirinya menjadi sebentuk kepompong di dahan-dahan. Seperti halnya anak-anak yang harus berubah meremaja dan remaja yang harus berubah mendewasa.

Namun, setiap perubahan tidak selalu mulus. Ada kalanya kamu kelelahan dengan situasi yang tidak lagi sama. Ada kalanya kamu kelelahan dengan alam semesta yang menuntutmu menjadi dewasa. Ada kalanya kamu kelelahan menghadapi dirimu sendiri dan tak habis pikir bagaimana cara mengendalikan dirimu. Seiring mendewasa kamu semakin dihadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya. Seiring mendewasa, kita harus siap melepas manja dalam diri kita untuk berdiri pada kaki-kaki kita sendiri. Sisi kanak-kanak dalam diri saya seolah ketakutan dan ingin kembali menjadi anak-anak lagi. Tetapi, tidak ada jalan untuk kembali menjadi anak-anak yang lugu, bahagia, dan bersikap manis. Tidak ada.

Tetapi, mari kita pergi ke sisi lain dari suatu metamorfosis. Adalah orangtua kita. Kita kadang tidak sadar bahwa kita selalu memandang mereka masih muda dan berjaya. Segala keinginan kita akan dituruti dan pemikiran semacam itu. Tetapi, kini, lihatlah jauh ke dalam suara orangtua kita ketika mereka menuturi kita suatu monolog panjang yang tak lain tak bukan adalah untuk kebaikan kita. Lihatlah jauh ke dalam punggung mereka yang menua selagi kita mendewasa. Lihatlah jauh ke dalam wajah orangtua yang barangkali sudah lelah sebenarnya dengan ketidakmampuan kita membahagiakan hati mereka. Dan, lihatlah lebih jauh ketika orangtua kita tengah berdoa, ada kalanya mereka menengadahkan tangan begitu lama kepada Tuhan.

Yang saya ketahui adalah ketika dewasa, kita pun menanggung suatu tugas kasat mata untuk membahagiakan orangtua. Ada suatu kuasa yang kita miliki untuk dapat membuat mereka tersenyum bahagia kepada kita bahkan memeluk kita dengan perasaan bahagia membuncah. Kuasa itu adalah usaha. Kita harus berusaha, mengencangkan ikat pinggang, menyingsingkan lengan baju untuk mencapai tujuan hidup dan untuk memberi hadiah terbaik kepada kedua orangtua. Sebelum melangkah lebih jauh, adalah ini yang saya ingin sampaikan untuk membagi sedikit kisah tentang kehidupan.

Bertemu Teman

Memang senang bertemu teman, berbagi kisah-kisah yang tak kunjung menemui kalimat penutup.
Memang senang bertemu teman, ada tawa-tawa yang menggema, melantun bahagia.
Memang senang bertemu teman, ada setetes demi setetes rindu yang menguap menuju angkasa.
Memang senang bertemu teman, berbagi asa tentang hari yang selalu dibicarakan dalam doa.

K i t a

Kita,
Kita tak perlu saling menyentuh lalu menguncup malu,
Kita tak perlu saling menautkan jari jemari,
Kita tak perlu saling duduk dekat-dekat di sudut ruang,
Kita tak perlu saling rayu

Getar-getar halus, demikian katamu tentang rasa.
Ada buncah bahagia di ruangan ini yang kasat oleh mata, namun ku tangkap dengan sempurna. Ada rindu yang menguap di senja hari seiring piring dan sendok yang beradu. Dan ada jatuh cinta untuk kesekian kalinya ketika kau dan aku kembali bertemu.

Biarlah Tuhan menjagamu,
Percayalah, pemilik tulang rusuk takkan pernah salah mengenali miliknya.