parallel universe

We’re living in our own parallel universe.

With you doing your own things, with me chasing my own dreams.

Separated by the roads, skyscrapers, old buildings…

And what else we have in common, when you do

and I do too, but they do not

We do not met by serendipity

but do not feel pity for us for unable to tighten the us,

as we are probably created to encourage each other

but not meant for one another

“Satu orang dapat membuat ribuan sajak atau cerita. Tetapi, ribuan sajak atau cerita juga dapat bercerita tentang satu orang saja.”

oliverscarlin:


Helianthus annuus
 ~ Watercolour on paper

This was a birthday gift for a friend, quicker than my usual approach. Been a long time since I’ve done a watercolour! Been super busy at class, cramming new concepts into my brain. Doing this sunflower was pretty relaxing.

Layang-Layang

"Kau bagiku adalah layang-layang," kata seorang pemuda berjaket biru pada suatu waktu.

Mungkin aku bagimu adalah layang-layang, seperti yang kau katakan. Jikapun begitu, aku ingin kau yang memegang benangku. Menerbangkanku di angkasa biru sebiru auramu. Bukankah layang-layang itu cantik?

Tapi, kemudian baru senja ini kau jelaskan mengapa kau samakan aku dengan lelayang merah jambu di tanganmu. Sepasang irismu hanya menatapku, sembari bertutur, “Sebab aku seperti menunggu layang-layang yang terbang. Aku hanya bisa terus mengejarmu bertahun-tahun.”

Ah! Helaan napasku berat, seolah aku hampir mengatakan sesuatu yang berat untuk dirasa. Padahal tidak sekalipun kau bertanya, tetapi aku ingin mengucapkan sebuah karena. Sepertinya kita telah saling tidak mampu memahami. Kau yang tidak memahami sikapku, dan aku yang tidak mengerti tingkahmu. Aku pun menatapmu, bahkan bila itu dapat meredakan gundahmu selama tahun-tahun kau menunggu, dan sedikit banyak menemukan gurat-gurat penantian terukir pada sejuknya tatapanmu. Tetapi, ada gundah disitu. Gundah yang sama.

"Aku tidak bermaksud menghindarimu. Tidak pernah begitu. Sekalipun," kataku. Semoga dapat meringankan setidaknya satu atau dua malam yang telah kau lalui dalam rindu.

"Aku hanya malu. Bagaimana jika kau tidak merasakan apa-apa? Bagaimana jika aku selama ini telah salah menangkap maksud dari tatapan dan senyummu? Bagaimana jika selama ini kau sesungguhnya risih dengan godaan orang-orang tentangku?" kataku. Redalah segala rasa yang menekan langit-langit hatiku dengan terucapnya serentetan bagaimana jika.

Dan kau tersenyum. Senyum yang bagiku kelewat manis, di antara kawanan jerawat kemerahan di pipimu. Mungkin ada jutaan lelaki yang lebih tampan, lebih elok dalam rupa dibandingkan sosok yang duduk di hadapanku ini. Tetapi, aku tidak pernah, tidak pernah menemukan sejuk dalam tatapan lelaki lain terkecuali ayahku dan sosok yang masih tersenyum itu.

Aku ikut tersenyum. Seolah aku tahu apa maksudmu tanpa kau harus berterus terang membahasakan apa yang sepertinya tidak kasat mata lagi untukku.

"Sekarang, mulai senja ini, kau tidak harus resah begitu lagi," katamu sebelum kau berpaling pada langit yang tiba-tiba sudah berwarna jingga.

Lelah

"Berlelahlah pada bahuku," katamu pada suatu malam sambil menunggu mata pejam.
Aku terlalu lelah untuk berlelap-lelap dalam mimpi dan kau lebih dari siaga untuk meminjamkan sepasang telinga.
Pun, ku tahu bahumu digelayuti lelah, tapi senyummu mengapa masih cerah?
Ku kisahkan dengan melantur suatu penantian
dan kau masih dengan senyum bercerita tentang pencarian.
Serintik hujan menapaki jendela dengan riang, ia menertawai keluguan di balik jendela.
Karena kau terlalu lelah mencari tanpa menyadari kau pergi untuk kembali
dan aku terlalu malu memberitahumu tahun-tahun aku terjebak dalam ruang tunggu.

“Terkadang, seseorang yang jarang bicara kepadamu justru sering mengucap namamu dalam baris-baris doanya.”
“Tetapi, tunggu dulu, maukah kamu duduk bersamaku sepanjang senja, mendengarkan suara sumbangku dan cerita-ceritaku? Sebab sudah sejak dulu, ku idamkan senja seperti itu bersamamu.”
“Kau adalah satu dari bintang biru. Satu yang menyebabkan kagumku, satu yang menjadi muara rinduku, dan satu yang akan menjadi rumahku.”