“Sebab, mereka yang saling jatuh cinta terkadang terlalu malu untuk saling menyapa.”

Suratkabar Pagi

Satu bendel suratkabar tergolek di meja, menunggumu menghampirinya. Dan kamu pun datang padanya dan berharap untuk mendapat berita-berita baru. Benar-benar baru. Bukan lagi topik lama yang diulas kembali dengan tokoh dan sandiwara yang berbeda. TIdak hanya kamu, bangsa ini sudah jenuh tiap pagi disuguhi wacana itu-itu saja tentang lakon-lakon yang bertingkah buruk dengan mengatasnamakan diri bangsa. 

Lalu, beberapa tegukan semi pahit bercampur gula sudah menemanimu menjelajahi aksara-aksara yang tercetak sedemikian rapi. Kau menunggu ada berita baik, sebaik-baik berita yang dapat dikabarkan suratkabar pagi kepadamu. Tidak hanya kamu. Bangsa ini juga rindu kabar-kabar yang membanggakan dirinya. Dan, kami, generasi muda menginginkan motivasi yang akan memacu semangat kami mencetak prestasi.

Balada di Radio

Mengalun perlahan balada mendayu dari radio. Dayu-dayu yang menyebabkan hatimu seperti lirik-lirik dalam balada itu, teriris sembilu. Perlahan, kau memutar tombol bulat hitam, mencari siaran lain yang tak memperdengarkan balada sendu.

Surat Untuk Kartini

Tanpa ada kalimat-kalimat lugas Kartini,

perempuan hanya akan melakoni peran istri.

Tanpa Kartini lagi,

perempuan memaksakan diri menerima suaminya poligami.

Atau ia yang menjadi garwa kesekian suami.

Tanpa suara-suara dalam aksara Kartini,

perempuan bangsa ini selamanya tak kenal aksara, tak tahu baca, dan tak mampu menyuarakan diri.

Adalah Kartini.

Yang lahir dari kalangan suku kami - yang adat tiadatnya membatasi gerak gerik perempuan selain kain jarik yang memaksa kami tak mampu berlari mengejar ketertinggalan kami.

Ia bilang ia mau.

Dan ia kukuh ingin maju.

Dan untuk Kartini,

saya mengenalmu dari semangat perempuan untuk maju.

Terimakasih, untuk surat-suratmu yang mencerahkan dan menyadarkan.

Dan untuk perjuanganmu,

yang kau wariskan dalam tiap diri perempuan Indonesia.

“Satu orang dapat membuat ribuan sajak atau cerita. Tetapi, ribuan sajak atau cerita juga dapat bercerita tentang satu orang saja.”

Layang-Layang

"Kau bagiku adalah layang-layang," kata seorang pemuda berjaket biru pada suatu waktu.

Mungkin aku bagimu adalah layang-layang, seperti yang kau katakan. Jikapun begitu, aku ingin kau yang memegang benangku. Menerbangkanku di angkasa biru sebiru auramu. Bukankah layang-layang itu cantik?

Tapi, kemudian baru senja ini kau jelaskan mengapa kau samakan aku dengan lelayang merah jambu di tanganmu. Sepasang irismu hanya menatapku, sembari bertutur, “Sebab aku seperti menunggu layang-layang yang terbang. Aku hanya bisa terus mengejarmu bertahun-tahun.”

Ah! Helaan napasku berat, seolah aku hampir mengatakan sesuatu yang berat untuk dirasa. Padahal tidak sekalipun kau bertanya, tetapi aku ingin mengucapkan sebuah karena. Sepertinya kita telah saling tidak mampu memahami. Kau yang tidak memahami sikapku, dan aku yang tidak mengerti tingkahmu. Aku pun menatapmu, bahkan bila itu dapat meredakan gundahmu selama tahun-tahun kau menunggu, dan sedikit banyak menemukan gurat-gurat penantian terukir pada sejuknya tatapanmu. Tetapi, ada gundah disitu. Gundah yang sama.

"Aku tidak bermaksud menghindarimu. Tidak pernah begitu. Sekalipun," kataku. Semoga dapat meringankan setidaknya satu atau dua malam yang telah kau lalui dalam rindu.

"Aku hanya malu. Bagaimana jika kau tidak merasakan apa-apa? Bagaimana jika aku selama ini telah salah menangkap maksud dari tatapan dan senyummu? Bagaimana jika selama ini kau sesungguhnya risih dengan godaan orang-orang tentangku?" kataku. Redalah segala rasa yang menekan langit-langit hatiku dengan terucapnya serentetan bagaimana jika.

Dan kau tersenyum. Senyum yang bagiku kelewat manis, di antara kawanan jerawat kemerahan di pipimu. Mungkin ada jutaan lelaki yang lebih tampan, lebih elok dalam rupa dibandingkan sosok yang duduk di hadapanku ini. Tetapi, aku tidak pernah, tidak pernah menemukan sejuk dalam tatapan lelaki lain terkecuali ayahku dan sosok yang masih tersenyum itu.

Aku ikut tersenyum. Seolah aku tahu apa maksudmu tanpa kau harus berterus terang membahasakan apa yang sepertinya tidak kasat mata lagi untukku.

"Sekarang, mulai senja ini, kau tidak harus resah begitu lagi," katamu sebelum kau berpaling pada langit yang tiba-tiba sudah berwarna jingga.

Lelah

"Berlelahlah pada bahuku," katamu pada suatu malam sambil menunggu mata pejam.
Aku terlalu lelah untuk berlelap-lelap dalam mimpi dan kau lebih dari siaga untuk meminjamkan sepasang telinga.
Pun, ku tahu bahumu digelayuti lelah, tapi senyummu mengapa masih cerah?
Ku kisahkan dengan melantur suatu penantian
dan kau masih dengan senyum bercerita tentang pencarian.
Serintik hujan menapaki jendela dengan riang, ia menertawai keluguan di balik jendela.
Karena kau terlalu lelah mencari tanpa menyadari kau pergi untuk kembali
dan aku terlalu malu memberitahumu tahun-tahun aku terjebak dalam ruang tunggu.

“Terkadang, seseorang yang jarang bicara kepadamu justru sering mengucap namamu dalam baris-baris doanya.”